Rabu, 27 Februari 2013

How is psychology




Kalau kita berbicara tentang siapa itu sebenarnya psikologi, kita akan mendapatkan berbagai macam pendapat dan sudut pandang yang berbeda-beda, dan kepada siapa kita bertanya. Nah disini penulis mencoba menjelaskan kepada pembaca tentang makna sebenarnya dari ilmu psikologi.
Psikologi adalah ilmu yang lahir pada tahun 1879 di universitas Leipzig di jerman yang di deklarasikan oleh Wilhelm Wundt dan wundt juga dikenal sebagai bapak psikologi eksperimental. Wundt membuat karya tulis yang menjadi salah satu yang paling penting dalam sejarah psikologi, "Principles of Physiological Psychology" pada tahun 1874. Karya tersebut menggunakan sistem dalam psikologi yang berupaya menyelidiki pengalaman langsung dari kesadaran, termasuk perasaan, emosi, gagasan, terutama dijelajahi melalui introspeksi.
Jauh sebelum psikologi yang dideklarasikan oleh wundt, pada jaman yunani kuno psikologi telah dikenal sejak jaman Aristoteles sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu untuk kekuatan hidup ( levens beginsel). Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala - gejala kehidupan. Jiwa adalah unsur kehidupan (Anima), karena itu tiap - tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.
Nah seiring berjalannya psikologi terus berkembang dan melahirkan banyak tokoh salah satunya adalah  Sigmund Freud. Freud mengembangkan pendekatan psikoanalisa. Ia menyakini bahwa sanya kehidupan manusia sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar, sehingga banyak kegiatan yang dikendalikan oleh alam bawah sadar atau inplus yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga prilaku itu dapat dilakukan dalam keadaan tidak sadar. Ada tiga pembagian alam sadar dan tidak sadar dalam jiwa manusia yang mengontrol seluruh kehidupan manusia yaitu : consunes, preconsunes.unconsunes.
Consunes : adalah alam sadar manusia seperti saat anda beraktivitas itulah alam sadar yang sedang anda jalani.
Preconsunes : adalah alam memori alam ini kita jalani ketika kita dalam keadaan sadar tetapi dalam keadaan kita melamun.
Unconsunes  : nah alam inilah yang menurut Freud menguasaai manusia didalamnya tersimpan begitu banyak kenagan sepanjang rentang kehidupan kita, baik itu hal yang menyenangkan, ataupun menyedihkan dan alam ini dapat bangkit kembali sewaktu-waktu ketika kita melihat tempat, atau objek yang mengigatkan kita akan hal tersebut. Misal : kita pernah jatuh hati pada seseorang wanita, dan wanita itu sangat kita cintai tetapi wanita itu menghiyanati cinta kita, kita berusaaha sekuat mungkin untuk melupakan semua kenagan tentang wanita tersebut baik itu foto, kado, dan semua barang atau kenangan yang berkaitan dengan wanita itu. Berselang waktu kita kembali jatuh cinta dengan wanita yang kita anggap akan menjadi jodoh kita, tetapi hal yang sama kembali terjadi menimpa kita, kita di tinggalkan olehnya rasa sakit yang kita rasakan akan dua kali libat rasanya dikarenakan kenagan yang begitu keras kita buang dan kita kubur kembali bangkit karna adanya inplus yaitu ditinggal oleh wanita untuk kedua kalinya. Inilah yang dimaksud freud alam bawah sadar menguasai semua kehidupan manusia.
Berkaitan dengan alam bawah sadar freud juga mengemukakan teori guunung es, yang artinya semua kejadian psikis pada manusia ada kaitanya dengan masa lalu, seperti yang penulis jelaskan diatas.
Nah pada masa sekarang stetma masyarakat aceh pada umumnya terhadap ilmu psikologi itu adalah ilmu meramal. Pada hakikatnya ilmu psikologi itu sendiri sedikitpun tidak ada unsur meramal seperti setetma masyarakat pada umumnya. Psikologi dalam menidetifikasi masalah klayen selaulu melakukan pendekatan-pendekatan, dan menlakukan berbagai macam percobaan baru bisa menyimpulkan gejala apa yang dialami sipasyen, dan sangat beda dengan meramal karena meramal lebih indentik dengan mistis, dan psikolologi sama sekali tidak ada unsur mistis. Psikologi selalu meindetifikasi masalah dengan mengunakan berbagai teori yang telah dilakukan  penelitian sebelumnya, dan melihat dari gejala-gejala yang terjadi. Misal : seseorang menolak hal yang telah terjadi karena diangapnya itu sesuatu hal yang memlukan ketika temannya menyinggung mengenai hal tersebut secara sepontan dia akan menolaknya dan mengagap hal itu tidak pernah terjadi dalam kehidupannya. Hal yang dilakukan adalah penolakan itu adalah pertahanan diri atau lebih dikenal dengan EDM (ego defense mekanizem).
Nah dari apa yang telah penulis jelaskan diatas maka jelaslah bahwasanya ilmu psikologi bukan ilmu meramal atau sebagainya, tetapi ilmu yang berlandaskan lambang yang bernama trisula yang mencakup tiga ruang lingkup ilmu psikologi yaitu :
Kongnitif : yaitu pemikiran
Afektif : jiwa/perasaan
Psikomotorik : prilaku
Tiga dasar inilah psikologi berdiri, dan jelas psikologi bukan ilmu peramal. Seperti yang disangka kebanyakan masyarakat.

Selasa, 26 Februari 2013

GENSAN Menyoal Kesehatan Jiwa


Indonesia kini dihadapkan pada pekerjaan rumah yang cukup berat terkait kesehatan jiwa warganya. Berbagai kondisi psikososial yang menjadi indikator rendahnya tingkat kesehatan jiwa masyarakat khususnya yang berkaitan dengan karakteristik kehidupan di perkotaan (urban mental health) telah mengalami peningkatan yang cukup massif beberapa waktu belakangan ini.

Fenomena yang cukup menarik perhatian khalayak adalah naiknya tren kekerasan di berbagai wilayah di negara kita, baik fisik maupun nonfisik. Bentrok antarpreman, politisi, antaraparat, warga dengan aparat, warga dengan swasta, perang antardesa, hingga bentrok dengan isu agama. Terakhir, mencuat kekerasan dalam dunia pendidikan yakni tawuran pelajar yang berakhir dengan terbunuhnya sejumlah siswa dengan sia-sia dalam waktu yang berdekatan.

Menurut Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Diah Setia Utami, dalam sebuah kesempatan di Jakarta disebutkan bahwa tingginya beban ekonomi, makin lebarnya kesenjangan sosial, serta ketidakpastian situasi sosial politik membuat masyarakat menderita depresi. Beratnya beban jiwa menimbulkan pemikiran irasional dan mewujud dalam perilaku yang penuh dengan kekerasan, mulai dari tawuran, perundungan (bullying), kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan, hingga bunuh diri.

 Survei kebahagiaan
Terkait perkembangan kesehatan jiwa masyarakat Indonesia saat ini, menarik untuk dicermati hasil survei termutakhir dari TWHR (The World Happiness Report/Laporan Peringkat Kebahagiaan Dunia oleh PBB) yang mengukur seberapa tinggi tingkat kebahagiaan penduduk dari negara-negara yang disurvei.

Dalam Laporan TWHR bertebal 158 halaman yang dipublikasi Columbia University’s Earth Institute, disebutkan bahwa Indonesia pada 2012 lalu berada pada peringkat ke-83. Di antara sesama negara ASEAN, peringkat kebahagiaan warga Indonesia kalah jauh dari warga Singapura yang memiliki peringkat kebahagiaan yang paling baik dengan peringkat ke-33 dan diikuti oleh Malaysia yang ada pada peringkat 51.

Adapun empat negara dengan peringkat teratas pertama dalam peringkat kebahagiaan dunia diduduki oleh Denmark, Norwegia, Finlandia dan Belanda dengan segala fasilitas dan jaminan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh para warganya (www.huffingtonpost.com).

Pemeringkatan dalam TWHR didasarkan pada apa yang disebut dengan “life evaluation score” dengan skala dari 0-10 yang mengukur kebahagiaan dari beragam aspek kehidupan dari mulai kesehatan warga, keluarga, jaminan kerja, kebebasan berpolitik, tingkat korupsi pemerintahan, dan aspek lain yang terkait. Aspek-aspek kehidupan yang menjadi dasar atas terciptanya kesehatan jiwa pada seluruh warga di setiap negara. 

Menurut Kementerian Kesehatan, kesehatan jiwa didefinisikan sebagai perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Senada dengan itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun memberi batasan kesehatan dengan menyatakan bahwa kesehatan individu tidak hanya bergantung pada tiadanya penyakit jasmaniah semata tetapi juga keseimbangan psikologis dan fungsi sosialnya juga. “Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity”.

Dari definisi kesehatan jiwa dan peringkat kebahagiaan warga Indonesia menurut hasil survei TWHR oleh PBB di atas kita dapat menyebutkan bahwa pembangunan yang dikelola oleh pemerintah saat ini masih jauh dari kata berhasil dalam upaya mewujudkan kesejahteraan kesehatan jiwa warganya.

Memperkuat kesimpulan di atas, dikutip dari media Gatra online, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nova Riyanti Yusuf menyatakan bahwa samoai saat ini pemerintah masih menganaktirikan kesehatan jiwa dibanding kesehatan fisik. Salah satu buktinya antara lain jumlah anggaran untuk kesehatan jiwa yang dialokasikan oleh pemerintah setiap tahunnya sangat kecil.

Data lain diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Tun Kurniasih Bastaman di satu media yang menyebutkan bahwa dari 9.000 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Indonesia, hanya 70 puskesmas yang memberikan akses layanan kesehatan jiwa. Padahal, pemahaman tentang kesehatan jiwa di masyarakat dan kesiapan puskesmas menjadi ujung tombak layanan kesehatan jiwa.

 Perhatian lebih
John Helliwell, Richard Layard dan Jeffrey Sachs, co-editor laporan TWHR di laman www.huffingtonpost.com menyebutkan, publikasi laporan kebahagiaan dunia ditujukan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah dari negara-negara yang disurvei, bahwa ukuran kebahagiaan dan kesejahteraan warga negara itu jangan hanya diukur secara kuantitatif oleh tingkat pendapatan nasional atau berupa produk nasional bruto (PNB) semata, tetapi juga ditentukan oleh faktor lain yang melibatkan banyak unsur kualitatifnya.

Apa saja menurut mereka yang harus mendapatkan perhatian lebih daripada hanya sekadar fokus pada aspek pembangunan ekonomi semata? Aspek kesempatan dan kesejahteraan kerja, adanya komunitas atau rukun warga yang solid, saling percaya dan menghormati, serta pemerintahan yang mampu mewujudkan kebijakan yang bersih, terbuka dan partisipatif, memperbaiki kesehatan jasmani dan rohani warga, concern atas kehidupan keluarga, dan mewujudkan pemerataan pendidikan untuk semua adalah aspek-aspek yang harus menjadi perhatian lebih dalam realisasi kebijakan pemerintah.

Untuk mengawal keterwujudan aspek-aspek di atas yang mencakup wilayah wewenang eksekutif, usulan banyak pihak terkait pentingnya menghidupkan kembali UU Kesehatan Jiwa di samping UU Kesehatan yang telah ada merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi di wilayah legislasi. 

Negara kita sejatinya sempat mempunyai UU yang menjadi payung hukum Kesehatan Jiwa, yakni UU No.3 Tahun 1966 tentang Kesehatan Jiwa. Namun, dengan alasan secara substansi sudah terintegrasi dalam UU Kesehatan No.3 Tahun 1992 yang selanjutnya diganti kembali dengan UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 maka otomatis negara kita tidak lagi memiliki UU Kesehatan Jiwa. Padahal, negara-negara yang telah maju dalam bidang kesehatannya pun seperti Jepang, Cina dan Korea telah memiliki UU khusus yang menjadi payung hukum Kesehatan Jiwa.

Oleh Purnama Sidik
* Purnama Sidik, Praktisi Psikologi Pendidikan.
email:purnamasidik_garut@yahoo.com

Editor : bakri

Senin, 18 Februari 2013

RESEP KOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN ANAK



Kominikasi yang efektif dalam keluarga sangatlah penting untuk menunjang perkembangan anak tersebut.komunikasi antara ayah ibu anak,dan keluarga lainnya. Bagaimana resap komunikasi yang efektif itu psikolog bernama Roslina Verauli,M.psi.,psikolog dari Empaati Development centre,jakarta,komunikasi efektif berkaitan erat dengan pola asuh orang tua.rosalina “meminjam” enam tipe yang dikemukakan oleh Philip Rice dikaitkan dengan pola asuh,yaitu:
1.      Tipe terbuka:
Tipe ini peling sehat. Antara anak terjalin komunikasi yang terbuka,sehingga anak dapat leluasa mengespersikan dirinya dengan bebas,dia dapat bercerita,curhat.karana dia sudah merasanyaman dengan orang tuanya dan dapat berdiskusi dengan leluasa dengan orang tuanya. Tipe terbuka ini ada didalam pola asuh demokrasi.
Contoh : orang tua sedang berbicara dan anak dibolehkan menaggapi pembicaraan orang tuanya dan menghargai pendapatnya.’’oh,kok menurut pendapat adx seperti ini, ya?’’.

2.      Tipe permukaan
Komunikasi tipe ini terjadi hanya pada hal-hal yang tidak penting atau hanya sebatas di pemukaan saja ; tidak rill,tidak detail atau hanya sebatas basa-basi saja. Efek dari komunikasi yang demikian ini berakibat buruk dalam komunikasi dalam keluaga sehingga terjadinya saling tertutup antara anak, dan orang tua. Sehingga ketika orang tua inggin mengali informasi yang dalam tentang anak akan timbul rasa tidak enak,takut salah,dan merasa pendapat atau sarannya tidak akan diterima.
Contoh : mama ko sedih? Ibunya, “menjawab gak kok mama gak sedih”.
Komunikasi tipe ini biasanya ada dalam pola asuh permisif atau indulgent

3.tipe mengabaikan(avoidance)
Angota keluarga saling menghidar sehingga tidak terjalinya komunikasi yang baik didalam keluarga,dan dalam pola ini antara orang tua,dan anak sering terbawak emosi dalam berkomunikasi. Pola ini ada di dalam tipe pola asuh cuwek atau neglectful. Tipe ini biasanya terjadi karena kelarga kurang harmonis atau broken home.
Contoh : misalnya orang tua sedang terburu-buru mau berangkat ke kantor dan bertanyak kepada anaknya’’ apa kabar sekolah mu hari ini sayang?’’,sambil terburu-buru,dan sang anak menjawap’’ baik-baik aja tuh’’,kok kamu menjawapnya seperti itu kan mama nayaknya baik-baik. Hal itu yang bakalan terjadi apa bila didalam keluarga diterapkan tipe mengabikan.


                                                                                                            
4.tipe komunikasi yang salah
Biasanya terjadi pada pola asuh yang oterriter.orang tua selalu menuntut segala sesuatu harus seperti apa yang diinginkan oleh orang tua bila tidak anak akan dikenakkan sangsi oleh orang tuanya. Cara mendidik seperti ini membuat anak-anak cenderung diam dan tertutup dengan orang tuanya, dan sianak akan bercerita yang baik-baik saja kepada orang tuanya.
Contoh : pa, hari ini aku dapat nilai yang tinggi lo. Padahal sebenarnya sianak mendapat nilai yang buruk, sianak terpaksa berbohong kepada orang tuanya tetimbang nantinya kenak marah. Efek sampingnya dari penetapan pola otoriter adalah sianak akan mengalami ganguan psikis dikarenakan tuntutan dari orang tuanya yang membuat sianak tidak bebas berexpresi, dan menyampaikan segala masalah yang dialaminya, dan juga sianak akan memilih teman-temanya yang menurutnya lebih mendengarnya dari pada orang tuanya sendiri yang ditakutkan adalah teman-temannya akan menyampaikan hal-hal yang kurang baik untuknya tanpa ada pantauwan dari orang tuanya dikarenakan sianak merasa tidak nyaman dengan orang tuanya.

5. Tipe komunikasi satu arah
Tipe ini terjadi hanya satu arah. Maksutnya adalah komunikasi hanya dikuasai oleh satu figur yang dominan didalam keluarga baik itu ayah maupun ibu. Dan tipe ini juga terdapat dalam pola asuh otoriter.
Contoh : nak, setelah makan kerjakan PR ya. Sang anak menjawap : tapi ma. Es, mamakan belum habis bicara. Dengarkan. Kata mama sianak.

6. Tipe tanpa adanya komunikasi
Antar keluarga tidak adanya komunikasi, dan hanya berbicara seperlunya saja.
Contoh : orang tua pulang dari kantor langsunga masuk kamar tanpa adanya komunikasi sama sekali, dan begitu juga dengan sianak pulang sekolah lagsung masuk kamar, dan menguci pintu.
Efek dari penerapan komunikasi yang seperti ini orang tua tidak pernah tau kebutuhan anak secara menyeluruh, dan komunikasi tipe ini juga ada dalam pola asuh neglectful.

Dua sayrat lain
setelah orang tua menerapkan komunikasi yang terbuka tinggal dua syarat lagi yang harus dipenuhi oleh orang tua. Pertama, orang tua harus memahami benar karakteristik anak. Kedua, orang tua juga harus mengetahui kematangan pemikiran anak. Nak setelah kedua syarat yang diatas terpenuhi baru kita dapat menjalin komunikasi yang baik dengan sianak.
Pahami kepribadian anak
Setiap anak adalah karakter yang unik, dan setiap anak memiliki terpamental yang berbeda-beda. Menurut filosof yunani Hipocrates (460-375 SM) ada 4 terpamental manusia yakni phelgmatic, sanguine, dan melankolis. Dan keempat terpamental ini ada pada anak anak hanya saja kadarnya berbeda-beda. Namun biasanya ada yang paling menonjol dari keempatnya, seperti :
1.  Tipe phelgmatic
Anak tipe ini lebih cenderung pendiam walau dalam keaadan sakit, dan lebih sedikit berbicara, dan lebih banyak menjadi pengamat, dan apabila mengerjakan sesuatu selalu  tuntas. Dalam menghadapi anak dengan terpamen seperti ini orang tua harus lebih proaktif dalam mengajaknya bicara.
2.      Tipe sanguine
Anak tipe ini sangat berbeda jauh dengan tipe phelgmatic. Anak dengan tipe sanguine adalah tipe anak yang periang dan sangat mudah memiliki teman tidak mudah marah, dan sedih. Suka bercerita tentang banyak hal yang ia ketahui. Di sisi negatifnya, karena sikapnya yang aktif dan sangat suka bercerita dan berkawan, terkatang dalam bercerita dia suka melebih-lebihkan sesuatu untuk menarik perhatian. Misalnya : ma, tadi aku liat abang jatoh dari kereta teros dia terseret, dan lukanya banyak kali ma. Nah disini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menluruskan apa yang diceritakan oleh anak tersebut. Seperti : emg waktu abang tu jatoh terseret atau Cuma jatuh biasa saja, teros lukanya di bagian mana saja?. Dalam menghadapi anak dengan terpamen seperti ini orang tua harus bertanyak mendetail untuk menghindari anak berkata bohong.
3.      Tipe choleric
anak dengan terpamental seperti ini sangat hiper aktif, gesit, aktif, berjiwa pemimpin, berkemauan keras, dantidak suka diatur, dan berkemauan keras untuk maju. Terkadang cukup sulit untuk menghadapi anak dengan terpamental seperti ini. Misal orang tua menyuruh mandi. “dek mandi dulu udah pagi. Sang anak menjawap. “mentar lagi ma lagi nonton tv nih. Nah jika anak menjawap seperti itu jangan lantas orang tua langsung terbawa emosi tetapi jawaplah seperti ini. “dek mandi yuk liat tu teman-teman mu udah pada mandi semua”.
Sementara untuk anak yang lebih besar orang tua harus konsisten dan memegang kendali sepenuhnya atau lebih dominan (perpaduan antara komunikasi satu arah). Kalau tidak anak akan berkembang semau-maunya dan susah di atur.
Hal yang perlu diwaspadai oleh orang tua adalah, anak dengan terpamental tipe ini cenderung mengapaikan perasaan orang lain, sulit tegang rasa, dan tidak suka melihat anak lain meregek. Maka tidak salah apabila orang tua mengajarkan empati kepada anak dengan trepamental seperti ini. Misalnya untuk anak dibawah umur 7 tahun, katakan seperti ini, “coba deh kamu di ejek sama teman mu pasti rasanya kesal bukan? Begitu juga kalau teman kamu di ejek.”
4.      Tipe melankolis
Anak dengan terpamental tipe ini memiliki kepribadian sangat lembut, mudah tersingung, dan cenderung pendiam, dan tertutup. Delam menghadapi anak dengan terpamental seperti ini orang tua harus pandai-pandai menjaga perasaanya, dan apa bila sianak berbuat salah tergurlah dengan lembut, dan fokus pada kesalahannya, hindari cara membentak, dan cara- cara kasar lainnya. Dalam berkerja anak dengan terpamen seperti ini termasuk perfeksionis.

Komunikasi efektif  terhadap anak 7 tahun
Ke bawah :

Gunakan bahasa yang singkat, sederhana dan tidak panjang lebar
terkadang orang dewasa bingung jikalau bahasa yang kita gunakan berbelit-belit, begitu juga dengan anak. Jadi gunakan bahasa yang muda dan dapat di mengerti langsung ke poin yang diinginkan.
Contoh : arif tolong ambilkan air ayah sementar nak.
Gunakan bahasa sekogrit mungkin
Dalam berkomunikasi dengan anak-anak kita juga mengunakan bahasa yang kongrit, dan ssesuai dengan umurnya jangan sampai kita samakan cara berbicara kita dengan orang dewasa.
Contoh komunikasi yang salah : adek jagan mau menang sendiri.
Contoh yang benar : adek bagi dong kesepatan tuk kawannya main kan kasihan dia gak dapat main.
Orang tua jangan menjadi peramal
Sering kali orang tua meramalkan sesuatu kepada anaknya padahal hal itu belum tentu terjadi.
Contoh : dek jangan naik-naik kereta nanti jatoh, dibawak ke rumah saket teros di jait.
Kita jukup mengatakan : dek hati-hati naik keretanya.
Pahami bahasa tubuh anak
Seringkali pada anak yang lebih kecil, bahasa tubuh orang tua yang bersivar nonverbal bisa megkomunikasikan sesuatu karena kemampuan berbahasanya masih kurang.
Contoh : apabila anak sedang duduk di kamar sendiri dan mukanya nampanya sedih cobalah aja bicara, “adk kok mukanya sedih?”.
Tidak dengan nada yang cepat atau terburu-buru
Saat berkomunkasi perhatikan cara berbicara, dikarenakan nada yang tinggi dan terburu-buru membuat anak menjadi tidak ngeh dengan apa yang ada bicarakan.
Tunbuhkan sikap saling terbuka, dan saling menghargai
Anak sudah lancar bebicara,lancar berbahasa, bisa mengekspresikan perasaan, dan pikiran serta ide- idenya, maka dikperlukan sikap terbuka, dan saling menghargai antara orang tua, dan anak yang lebih nyata.
Lebih banyak mendengarkan
Terhadap anak usia dia atas 7 tahun, orang tua harus lebih banyak mendengar, dari pada pembicara. Dengan lebih banyak mendengar orang tua akan lebih mengetahui masalah, perasaan ,dan keadaan anak baik fisik maupun psikis. Bukan berati membuat orang tua menjadi pasif tetapi orang tua harus lebih proaktif dalam memantau kondisi anak seperti ketika sianak pulang sekolah dalam keadaan lemas, maka orang tua harus peka dengan hal-hal yang demikian. Seperti bertanya ‘’sayang kok lebas banget sih’’. Kepekaan atau kepedulian seperti itu akan membuat anak akan lebih terbuka dengan orang tua.