Sabtu, 16 Februari 2013

Jejak Kisah Cinta dalam Peradaban Islam



Gensan


Salah satu kata yang akan abadi diperbincangkan adalah cinta. Bertambahnya waktu tidak membuat kata ini pudar pesonanya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kehidupan alam semesta saat kini dimungkinkan oleh cinta. Setiap orang berapapun umurnya dan apapun warna kulitnya tak pernah bungkam membicarakan cinta. Lantas apa itu cinta?

Sudah banyak karya maestro-maestro dunia yang mencoba mendedahkan makna cinta. Namun tampaknya dari sekian banyak konseptualisasi cinta, mayoritas sepakat bahwa pembicaraan tentang cinta dapat dibagi dua; cerita cinta semu dan kisah cinta sejati. Cinta semu hanya menonjolkan aspek biologis semata. Sehingga tidak mengherankan jika perbincangan tentang cinta dalam kategori ini akan cepat berhenti dan akan terus berulang lantaran dalam hal ini cinta mengalami penyempitan makna. Berbeda ketika orang membicarakan cinta sejati yakni cinta yang membangun, menginspirasi, sehingga menggairahkan orang untuk terus berbuat kebaikan dan meraih prestasi. Cinta seperti inilah yang dicoba penulis muda Salim A Fillah tawarkan dalam karyanya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku ini berisi kisah-kisah cinta yang terabadikan dalam peradaban Islam. Salah satu di antaranya adalah cerita romansa yang dijalani Layla dan Majnun. Di antara para pejuang cinta kisah klasik sangatlah masyhur. Kecintaan pada pasangannya yang begitu lengket membuat mereka terjebak dalam kegilaan bahkan ada yang menyebutkan keduanya menjelma menjadi seorang yang majnun (gila). Jalan cinta semacam ini kerap terduplikasi oleh generasi-generasi di era kapanpun. Sekarang misalnya kita tidak asing lagi dengan berita orang nekad menenggak racun karena cintanya tertolak.

Ada juga kisah cinta lain yang mengambil dari  sirah nabawiyyah (cerita nabi) dan para sahabat atau orang-orang yang sezaman dan hidup bersama nabi Muhammad. Di antara kisah yang disuguhkan dalam karya Salim A Fillah dalam kategori ini adalah kisah Hamzah yang rela menunda kesenangan di malam pertama dengan istrinya hanya demi mengutamakan perang di jalan Allah. Kisah-kisah dari para khulafa al Rasyidin dan para syuhada lainnya menjadi fokus utama lantaran dimensi insiratifnya. Jadi sembari membaca buku tentang kisah dan cerita cinta, wawasan sejarah peradaban Islam pembaca juga akan bertambah.

Gaya bahasa yang tersusun mengalir dan apik adalah kekuatan karya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang. Kisah-kisah yang disuguhkan pun jauh dari nuansa bertele-tele. Artinya format cerita pendek menjadi model dalam penulisan cerita. Tentu saja pembaca akan semakin dimanjakan lantaran format cerpen akan membuat pembaca tidak “lelah” dalam menemukan inti cerita di setiap penggalan kisah yang disampaikan.

Tampaknya pesan penting yang ingin di sampaikan oleh Eirfa ada dalam penggalan kata-kata berikut “Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraph sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”.

NILAI GENSAN



Salam perubahan

Salam mahasiswa 

Dalam setahun 12 bulan lamanya dan didalam 6 bulan sekalinya terdapat pula UAS (ujian akhir semester) di kampus dan di dalam melaksanakan UAS kita juga akan membutuhkan waktu 7 hari lamanya untuk melalui masa itu, dan di  7 hari tersebut terdapat pula 90 menit waktu pengerjaan soal yang telah di berikan pengawas kepada mahasiswa, dan didalam waktu 90 menit pula lah terciptanya sebuah usaha untuk mengerjakan sebuah soal agar soal tersebut mendapatkan jawaban yang benar dan dalam satu soal tersebut terdapat pulalah berbagai cara untuk mendapatkan kebenaran seperti : menggunakan nalar, menyimpan sebuah kertas usang,  membawa contekan, menyontek, melirik, menerawang, menjelajahi, dan mengawasi dan didalam hal tersebut juga membutuhkan yang namanya media atau alat bantu seperti : buku catatan dan tak jarang pula buku cetak, pulpen, mata yang tajam, kertas usang, telinga yang oke, otak yang masih aktif,  HP, BBM, dan kancing baju. 

Hal itu sudah merupakan sebuah rutinitas yang sangat sering terjadi pada saat mengikuti ujian dimana pun anda berada. Dalam dunia pelajar atau mahasiswa hal tersebut sudah menjadi sebuah tradisi yang dari dulu hingga sampai saat sekarang ini, kalau saja pada masa jaman dahulu pendahulu kita tidak melakukan hal tersebut mungkin tidak akan terjadi pada masa sekarang ini dan hal itu akan berlarut-larut sampai kegenarasi kedepannya, apakah masih ada yang ingat dengan kata ini “buah kelapa tidak jauh, jatuh dari batangnya” hal tersebut menunjukkan bahwa setiap perubahan sikap dari masa ke masa dimulai dari orang dahulu atau senior-senior kita yang memberikan ajaran tersebut kepada kita. Mungkin hal ini jugalah penyebab kenapa dan mengapa negara kita tak pernah bersih dari korupsi.
Dalam dunia yang sebenarnya dan benar-benar nyata hal itu merupakan hal yang tidak baik untuk dipergunakan bagi pelajar karena tidak sesuai dengan pri kemanusian, kenapa? Itu di karenakan adanya sebuah perbuatan yang menyesatkan orang lain dan yang pastinya diri sendiri juga.
Tujuan seseorang melakukan pembelotan terhadap dalam mengikuti ujian hanya untuk mendapat kan nilai yang tinggi, mendapatkan pujian, mendapatkan kepuasan sesaat, mendapatkan yang layak dengan nilai yang tinggi, dan merasa yang terbaik dan yang pastinya dia akan bisa sombong. Dan tujuan tersebut tidak akan pernah memberikan sebuah pengalaman yang bearti, sebuah ilmu yang kekal, sebuah citra diri yang hasilnya sesuai dengan sebabnya, dan merasakan  ketenagan dalam kenikmatan kejujuran dalam ujian.

Datang untuk kembali 

Seseorang yang berangkat menuju bangku perkuliahan bukan hanya sekedar mengejar hasi nilai yang tinggi, mencari gelar sarjana saja. Melainkan sebuah ilmu yang kekal, ilmu yang bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya, ilmu yang nyata keberadaannya dan ilmu yang berguna untuk orang lain dan dirinya sendiri. 

Datang untuk kembali, jauh-jauh keberangkatan kita dari kampung halaman menuju sebuah kota yang di penuhi dengan kerlap-kerlip lampu kota dan kebisingan suasana malam akan kendaraan yang menuju arah yang tak menentu, dengan gaya kampung kau menghampiri kota ini, dengan mata yang terpesona melihat kehidupan di kota ini dan yang tentunya dengan wajah yang aneh ketika melihat orang yang sok aneh dikota ini, keberadaan teman disini dipenuhi dengan beberapa factor sesuai dengan sepengetahuan saya orang yang berangkat dari kampung halamanya menuju kota itu dikarenakan mencari pekerjaan dan menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi. Setiap tujuan dasar tersebut ada satu hal menjadi tujuan terakhir yaitu “kembali”. Kembali kekampung halaman untuk melepaskan penat berada dikota dan yang pasti dengan muka yang berbinar-binar anda akan menjadi orang yang sangat bahagia ketika meminjakkan kampung halaman.

Namun hanya satu hal yang harus di ketahui adalah bahwa kata kembali tersebut harus memabawa hasil, hasil yang di hasilkan dari kerja keras melalui sebuah usaha. Usaha yang benar-benar memiliki usaha yang benar dan bukan dengan usaha yang salah. Usaha tersebut bukan hanya sekedar nilai yang baik dan memiliki kerja yang baik. Melainkan membawa sebuah hasil yang benar-benar memiliki sebuah kenikmatan dan membawa perubahan yang nyata disaat anda kembali kekampung halaman. Membawa sebuah kenangan yang berdasarkan kehidupan mulia, membawa senyuman yang nyata, membawa sepenggal kebanggaan, dan yang pasti membawa oleh-oleh untuk orang di kampung.

Sebuah nilai tinggi bukan menjadi sebuah kebanggaan dalam menuntut ilmu dan nilai buruk juga bukan sebagai sarana anda untuk mengeluh, untuk bertindak dengan hal bodoh dan menjadi seorang yang suka berputus asa. Nilai yang hasilnya buruk itu adalah angugrah yang terindah dalam dunia pendidikan dengan adanya nilai yang buruk tersebut bisa menimbul nilai yang hasilnya baik, namun harus di ketahui juga bahwa “yang terbaik tak akan pernah membaik, dan yang terburuk tak akan pernah  memburuk melainkan membaik”. Hal ini lah yang menjadikan saya berani menulis sebuah cerita usang yang seharusnya menjadi pemikiran yang tepat bagi teman-teman semua .




Wanita Itu Dinikahi Karena 4 Hal



Rasulullah telah bersabda : ”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau”

Karena Hartanya.

Harta itu adalah salah satu dari fitnah dunia, apabila harta telah di miliki oleh seseorang maka harta itu menjadi fitnah dan cobaan baginya, memilih istri hanya karena harta kekayaannya saja berarti dia telah memilih untuk memiliki fitnah dan cobaan, ditambah lagi istri itu sendiri adalah cobaan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 
(Attaghabun, 64:14) : Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.),maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan berdamai (tidak memarahi) serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Firman Allah
 
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(64:15) Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Maka Nabi menekankan kalian akan rugi, bila alasan menikahinya karena kekayaannya.
Harta itu bernilai nol, angka nol akan ada harganya kalau didepannya ada angka lain selain nol, angka lain itulah agama. Bila orang memiliki harta, harta itu haqiqinya sangat hina, lebih hina dibandingkan dengan bangkai anak kambing di padang pasir yang luas. Pada suatu hari Nabi berjalan dengan para sahabat, kemudian menemukan bangkai anak kambing, “Hai para sahabat tidakkah kau lihat bagkai anak kambing itu ?” kata Nabi, “Ya Nabi” jawab para sahabat, “Siapakah yang mau mengambil manfaat dari bangkai itu?” sambung Nabi, saat itu para sahabat tidak ada yg bergerak, “Ketahuilah bahwa gambaran dunia itu lebih hina dari bangkai anak kambing itu”, al hadits... Kalau seseorang bisa merubah harta itu lebih bermakna, maka berbahagialah dia, antara lain harta yang mereka miliki digunakan untuk jihad fisabilillah.
Jadi janganlah calon suami hanya memilih perempuan hanya semata-mata karena hartanya. Dijamin akan rugi.



Karena Kecantikannya

Allah berfirman :
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

(Attaghabun, 64:3) : Dia Allah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia menjadikan rupamu dan Allah membuat bagus rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kamu kembali.

Allah berfirman :
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

(Ali Imran, 3:6) :Dialah yang membentuk rupa kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Mulya lagi Maha Bijaksana dalam menghukumi.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ - الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ -
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاء رَكَّبَكَ     -

(Al Infithar, 82:6 , 7 , 8 )
Hai manusia, apakah yang telah mem perdaya kan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha mulya. - Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, -
Dalam bentuk rupa apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

Sebenarnya seluruh rupa manusia ini sudah sebaik-baiknya rupa. Maka janganlah memilih kecantikan wajahnya menjadi alasan memilih seorang istri.
Memilih kecantikannya saja tanpa melihat agamanya, dijamin kecantikan itulah yang akan mengakibatkan bencana. Wajah dibuat oleh Allah tidak untuk mengangkat derajat orang sesuai dengan dalil : ” Allah tidak memandang rupa kalian dan harta kalian, melainkan Allah memandang hati kalian dan amal kalian”.

Karena Keturunannya.

Firman Allah :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

(Attiin, 95:4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Orang dilahirkan ke bumi itu tidak bisa memilih suku apa, keturunan siapa dan bagaimana warna kulit, rupa dan bentuk fisiknya. Namun secara garis besar semua manusia dibuat dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Sebagian besar orang arab saat itu, betul-betul menjadikan keturunan sebagai patokan derajat manusia. Bila setelah perkawinan terjadi, ternyata diketahui derajat suku dan keturunan suaminya itu lebih rendah dari yg mereka lihat maka keluarga si perempuan berusaha agar bercerai, dengan alasan derajatnya berbeda. Bahkan di sebagian jazirah arab binatang kuda pun dicatat dari keturunan apa. Betul-betul tidak boleh dikawinkan dengan kuda sembarangan, karena nanti mengakibatkan adanya keturunan yang kurang bermutu. Tetapi untuk manusia haqiqi nya beda, mutu manusia itu adalah dari keimanan dan ketakwaanya.

Allah Berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

(AlHujuraat, 49:13) : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada.

Bila ada seorang laki-laki mendapatkan istri dari keturunan suku yg mereka anggap tinggi maka ia merasa bangga dan merasa derajatnya ikut naik, padahal

firman Allah :

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُواْ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

(Al an’am, 6:132) : Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lupa dari apa yang mereka kerjakan.

Saya pernah dialog dengan salah satu orang Yaman di Masjidil haram, yang warna kulitnya coklat agak gelap...Saat ada perempuan Yaman melintas, laki-laki Yaman yg saya ajak dialog mengatakan “Ini adalah salah satu dari suku kami di Yaman”, ...orangnya tinggi, putih, cantik. Kemudian ia saya tanya “Kenapa kamu dulu tidak menikahi yang seperti itu ?”, “O... tidak bagus karena suku saya kulitnya agak coklat tua, jadi adat kami menilai itu kurang baik karena nantinya bila memiliki keturunan tidak asli dari suku kami”, jawabnya.
Saya juga pernah dialog dengan salah satu orang India, saya Juga tanyakan padanya “Kenapa anda tidak menikahi orang selain India ?”, “Wah tidak baik itu.., karena anak saya nanti “belang” tidak asli India. Kalau tidak asli India nanti orang India yang lain tidak mau kawin dengan anak saya yang “belang” itu , jawabnya.
Inilah salah satu alasan orang mencari istri di lihat dari sisi nasabnya. Namun nasab pun akan membawa bencana bila tidak didasari agama.

Karena Agamanya.

Inilah elemen paling baik, paling pantas sebagai alasan seseorang menikahi seseorang. Kalau menikahi wanita karena agamanya maka akan beruntunglah kalian, kalau tidak rugi besar kalian. Jangankan orang yang baru akan membangun rumah tangga, bagi yang akan rujuk saja syarat agama harus dipenuhi.